Semua Orang Berhak Punya Anak, Tapi Tidak Semua Pantas Menjadi Orangtua


Image Source: https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net

Tadi siang saya pergi ke sebuah kedai bakso, ya sekedar mengeyangkan perut. Saya duduk di sebuah meja yang menghadap langsung ke pintu masuk, situasi di ruangan tempat konsumen duduk memang sedang riuh, banyak sekali yang makan.

Makanan saya pun datang, segera saya berdoa dan menambah sambal, lalu memakannya. Tak lama, datang rombongan dengan motor, seorang laki-laki, seorang perempuan dan seorang anak kecil. Laki-laki dan perempuan ini saya taksir usianya hanya beda 4-6 tahun dengan saya, dan anak kecil ini taksiran saya berusia 4 tahun.

Mereka duduk di meja belakang saya, lalu anak kecil itu memainkan mainan yang dia bawa sambil berceloteh. Terdengar suara dari Ibunya yang bilang, "Diem, kamu tuh ngga bisa diem".

Anaknya tak merespon, dia asik dengan mainannya. Sebenarnya dia tak mengganggu siapa-siapa, tapi sekali lagi ibunya bilang, "Diem ngga, kalo ngga diem kamu ngga usah makan".

Ayahnya merespon dengan pertanyaan, "Kamu mau ikut ke rumah nenek besok?" tanya ayahnya. "Hmm.. Nggak" jawab anaknya. "Kenapa ngga? Ayah sama Bunda mau pergi, kamu mau di rumah sendiri?" respon ayahnya. "Iya ih, kalo ngga ikut kamu di rumah aja sendiri sama hantu" respon juga ibunya. "hmmm, Bunda di rumah aja, temenin" rengek anaknya.

"Jangan nangis! Kamu makanya ikut, ngapain di rumah sendiri, ada hantu" jawab ibunya yang membuat anaknya semakin menangis. "Huh, malah nangis.. Diem.. Diem ngga?" Anaknya pun diem dengan menahan tangis.

Saya berkali-kali melihat ke arah mereka, tapi mereka seperti tidak nyaman. Saya pun diam, tapi telinga saya mendengarkan dengan baik isi percakapan mereka, nada dan intonasi mereka.


Image Source: https://cdn-image.hipwee.com

Anak itu fitrahnya adalah bergerak, dia sedang mengeksplorasi banyak hal. Saat kedua orangtua membatasinya, tidak berkembanglah motorik anak itu.

Anak jangan terus-menerus diberikan ancaman dan ketakutan, hanya untuk membuat dia menuruti apa kemauan kita. Dia bukan robot, pada saatnya dia juga akan menjadi besar, pada saatnya dia perlu didengar lebih banyak.

Orangtua harus belajar mendengarkan apa yang diinginkan anaknya sedari kecil, bukan untuk memenuhi semua kemauannya, tapi untuk memberi pengertian tentang hal-hal buruk yang ia pikirkan dan untuk memberi apresiasi tentang hal-hal baik yang dia ungkapkan.

Orangtua harus bisa menjadi idola anak, bagaimana mungkin anak mengidolakan orangtua yang gemar mengancam dan memberikan ketakutan? Bukan salah anak berbuat salah, tapi salah orangtua yang tidak belajar menjadi orangtua terbaik untuk anaknya.

Setiap orang berhak memiliki anak, tapi tidak semua pantas menjadi orangtua. Menikah muda, bukan alasan untuk itu semua.

Sebelum menikah, seharusnya setiap pasangan sudah siap dengan segala konsekuensinya, siap belajar banyak untuk menjadi suami, menjadi istri, menjadi ayah atau menjadi ibu. Menjadi orangtua itu ngga ada sekolahnya, sekolahnya adalah kehidupan itu sendiri.

Seperti halnya guru, jika ingin tetap menjadi guru maka teruslah belajar, jika berhenti belajar maka berhentilah menjadi guru. Lalu bagaimana dengan orangtua?

Sudah pasti, harus belajar sepanjang hayat. Saya masih belajar.. Semoga kita sama-sama terus belajar.. Terus memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

--ooOoo--

Recent posts

Comments

No comments yet.

Leave a Reply

captcha