Sedekah


Image Source: http://www.galamedianews.com/

Kupandangi beberapa keping recehan Rp500 dan selembar berwarna hijau dengan nominal Rp20000 dihadapanku. Kutarik nafas dalam dalam.

"Cukup gak ya untuk bertahan hingga mas Haikal gajian? Padahal gajian kan masih seminggu lebih." aku bergumam pelan, berharap tidak ada yang mendengar.

"Kenapa, Dek?" tanya mas Haikal, suamiku, yang tiba tiba sudah ada dibelakangku entah sejak kapan.

"Gak apa apa mas?" jawabku sambil sedikit tersenyum menutupi kegundahan hati.

"Arin tu, Dek. Ada tukang es krim lewat dipanggilnya, Mas lagi gak ada uang minta uang recehnya ya?" mas Haikal menyomot beberapa keping uang logam. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.

Arin, putri semata wayangku dengan mas Haikal. Bocah berusia 4 tahun itu belum mengerti apakah orang tuanya punya uang atau tidak untuk sekedar membelikan jajanan yang diinginkannya. Tapi sudahlah, semuanya kuserahkan kepada Allah SWT, rezeki kan bisa datang dari mana saja. Dan rezeki Allah sangatlah luas. Aku sangat yakin hal itu.

**********

"Assalamu'alaikum..."

"Wa'alaikumussalaam" kudengar suara dari luar yang aku tak tau siapa pemilik suara itu.
Kubuka pintu, terlihat seorang wanita dengan pakaian lusuh membawa beberapa buku doa.

"Ada perlu apa, bu?" tanyaku merasa tidak mengenal wanita tersebut.

"Maaf, Mbak. Mohon bantuannya, saya dari panti asuhan ingin minta bantuan senilai sebungkus nasi untuk anak anak yatim disana. Dan sebagai rasa terima kasih kami atas bantuan yang diberikan, kami akan memberikan sebuah buku ini." katanya menjelaskan sambil menyodorkan buku kecil berisi doa doa harian.

"Sebentar ya." aku pun masuk, mengambil uang 20 ribuan yang kemarin sore kupandangi. Tanpa pikir panjang langsung kuberikan kepada ibu tersebut.

"Ini bu kembaliannya." wanita itu menyodorkan uang 5 ribuan padaku.

Aku melongo heran. Masa iya sedekah pakai kembalian.

"Gak apa apa, Mbak. Saya kan mintanya seharga sebungkus nasi, saya rasa 15 ribu sudah cukup." sepertinya si ibu mengerti apa yang kupikirkan.

Akhirnya kuterima juga uang lima ribu tersebut.

Sore harinya kuceritakan kejadian tersebut kepada mas Haikal.

"Lucu ya. Masa minta bantuan ditentuin sebungkus nasi. Ya kalau yang dimintai uangnya lebih gak papa, kalau yang dimintai cuma punya uang lima ribu gimana?" mas Haikal menanggapi ceritaku.

"Huss... gak boleh gitu mas. Kalau sedekah yang ikhlas." Kataku sambil mencubit pipinya.

"Iya, iya."

**********

Kupandangi kulkas yang kosong melompong. Entah apa yang akan kumasak untuk menu hari ini, sementara jam terus berputar hampir mendekati jam makan siang.

"Uang tinggal lima ribu. Kalau dibelikan sayuran nanti Arin gimana? Anak itu kan sering minta beli makanan ringan atau eskrim." aku menggumam sendiri.

"Assalamu'alaikum. Dek..." mas Haikal masuk tiba tiba dan mengejutkanku.

"Ada apa, Mas? kok sudah pulang?"

"Mas mau nganterin ini." Ia tersenyum sambil menyodorkan sebuah bungkusan.

"Apa ini, Mas?"

"Nasi bungkus. Tadi ada yang minta tolong sama mas dan mas dikasih uang sama nasi bungkus." mas Haikal mengeluarkan lembaran uang merah dan biru, lalu diberikannya padaku.

"Alhamdulillah... " kuterima uang 150 ribu tersebut.

Aku pun teringat kejadian semalam. Kalau dihitung hitung jumlahnya pas.

"Makanya kalau sedekah yang ikhlas, Mas. Ni Allah langsung menggantinya sepuluh kali lipat." kataku melanjutkan.

"Iya, Dek." mas Haikal tersenyum. Sepertinya ia pun teringat kejadian kemarin.

**********

Janji Allah itu pasti. Sedekah, walau pun sedikit kalau ikhlas akan mendapat imbalan sepuluh kali lipat. Sekecil apa pun kebaikan akan mendapat imbalan, begitu pula sebaliknya. Jadi gak usah takut miskin karena sedekah. Dan gak perlu nunggu kaya baru mau membantu. Matematika Allah sangat luar biasa. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga.

Recent posts

Comments

No comments yet.

Leave a Reply

captcha