Kita Berbeda


Source: https://live.staticflickr.com/

 “Derrr” suara itu mengejutkanku, suara orang yang selalu membuatku terkagum-kagum pada dirinya.
“Hayooo, dari tadi melamunin apa hayoo..?” Ledekannya setelah berhasil membuatku terkejut.
“Nggak, aku nggak mikirin apa-apa kok... Aku Cuma agak sedih aja” jawabku.
“Sedih kenapa??” tanyanya lagi kepadaku.
“Sebentar lagi kan kita udah mau ujian akhir nasional, dan pasti kita akan berpisah kann??” ujarku.
“Kamu tenang aja... Aku bakalan melanjutin sekolah dengan kamu... Kita akan satu sekolah lagi dan kita pasti akan setiap hari bertemu..” Hiburnya kepadaku.

Dia memang selalu bisa membuatku tersenyum dan juga tertawa setiap hari, begitu juga aku. Aku hanya menganggapnya sebagai seorang sahabat yang paling baik yang ku miliki seumur hidupku. Aku tak rela jika harus kehilangan dia.

“Memangnya kamu gak sedih?” tanya ku padanya.
“Buat apa sih sedih? Sedih itu Cuma pada awalnya ajaa... gak mungkin kan aku terus-terusan sedih. Apalagi nanti aku bakalan satu sekolah lagi dengan kamu” jelasnya.
“Itukan kalau kita satu sekolah lagi, kalau nggak gimana?” tanyaku lagi dengannya.
“Emm... Gak tau sih,, Liat aja deh nanti” jawabnya singkat.
“Oh ia, besok hari minggu kamu ada waktu nggak?” sambungnya sambil bertanya
“Besok gak kemana-mana kok” jawabku
“Besok setelah aku pulang dari Gereja kita jalan yuk!” serunya
“Boleh, besok aku jemput ya..” kataku

Hari demi hari kami lewati bersama hingga pada akhirnya hari yang sangat aku takuti terjadi, yaitu hari dimana kami menghadapi ujian nasional bersama teman-teman se-angkatan. Kupandangi wajah mereka satu per satu, mereka tampak sangat bersemangat, namun tidak denganku, aku sungguh sangat tidak ingin perpisahan ini terjadi. Apalagi jika aku harus terpisah dari sahabatku. Setelah selesai melaksanakan ujian yang sungguh membuatku sangat pusing dengan soal-soal yang rata-rata aku tidak mengerti sama sekali, aku memutuskan untuk tidak langsung kembali kerumah, aku duduk di tempat favoritku yang mampu membuatku tenang dengan suasana yang sejuk. Tiba-tiba dia datang menghampiriku dan memelukku dari belakang.

“Eh, apaan sih Nitt?” bentakku agak kasar karena aku sungguh kaget saat ia secara tiba-tiba memelukku dari belakang.
“Hheh, maaf, aku Cuma rindu aja sama kamu..” jawabnya.
“Baru beberapa jam udah rindu...” jelasku.
“Biarin,.. Eh, kita jalan-jalan yuk, daripada kita duduk sambil mikirin ujian tadi kann?” katanya.
“Yaudah yukk” jawabku dengan nada agak pelan.

Dalam perjalanan aku sungguh bersenang-senang bersamanya, sungguh hari yang indah pada waktu itu. Dia memang sangat suka traveling, ya kalo gak ketempat wisata pasti muter-muter kota. Ya biasalah anak perempuan pikirku. Dengan sepeda motorku kami bersenang senang keliling kota dengan masih mengenakan seragam SMP yang menyimpan ribuan kenanganku dengan sahabatku dan teman-teman se-angkatan.

Disela kesenagan kami, aku menanyakan kepadanya tentang sekolah yang akan kami pilih untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas atau yang biasa disebut SMA.
“Eh, kita sekalian yuk nyari sekolah yang cocok untuk kita SMA nanti?” tanyaku
“Emm... Boleh yuk...” jawabnya dengan semangat.
“Sekolah impian kamu apa?? Biar kita kesana dulu..” ucapku
“Aku tunjukin arahnya ya... Nanti kamu juga tau nama sekolahnya..” ujarnya
“Siap bidadariku...” jawabku dengan sedikit gombal. Dia tersenyum kecil mendengar kataku tadi.

Kami menuju ke salah satu sekolah menengah kejuruan di pinggir kota, aku sempat berfikir beberapa kali, pasti kalau sekolah di sekolah kejuruan agak berat belajarnya. Walaupun sekolah itu berstatus swasta, tetapi sekolah ini adalah sekolah favorit para calon siswanya. Pasalnya sekolah ini adalah sekolah yang paling berprestasi bahkan mampu bersaing dengan sekolah berstatus Negeri. Wow, tak heran jika sekolah ini menjadi sasaran utama bagi para calon siswanya.

“Kamu serius ingin mendaftar di sekolah ini Nitt?” tanyaku
“Iyalah, masa aku becanda sih bawa kamu kesini,.. yaudahlah,, ayuk cepetan kita masuk ke sana” jawabnya

Kami masuk kesekolah itu hanya untuk mengambil formulir pendaftaran yang sudah disediakan panitia pendaftaran sekolah itu. Sekolah ini bagus juga pikirku, fasilitasnya juga lengkap, gak heran jika sekolah ini dikatakan sekolah favorit.

“Hey,, Melamun lagi kamu...” Aku kaget mendengar suaranya yang ajak keras tepat di telingaku
“Ayukk Kita pulang” sambungnya
“Yaudah Ayukk..” kataku

Beberapa hari ku lewati bersamanya, hingga acara pelepasan siswa0siswi digelar di sekolahku sebagai upacara yang secara simbolis dilaksanakan untuk melepas kami dari sekolah dan dinyatakan lulus dari jenjang SMP. Aku memutuskan tidak pulang kerumah setelah acara selesai, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu terakhirku bersamanya di sekolah ini, sore berlalu dan ini sudah malam, masih banyak teman-temanku yang belum pulang kerumah, karena mereka sudah membuat rencana bersama beberapa guru untuk menginap di sekolah, aku dan Anita memutuskan untuk tidak menginap disana. Sudah pukul 21:30 aku mengantar Anita pulang kerumah, dan setelah itu aku langsung pulang kerumahku.

Aku tidak tahu apakah Anita sudah menyerahkan formulir pendaftarannya kepada panitia sekolah yang kami kunjungi sebelumnya.
Aku sungguh tidak ada berkomunikasi sejak aku terakhir kali tertawa dengannya saat acara kelulusan disekolahku. Entah apa kabarnya, aku berdoa dia baik-baik saja. ‘Yaudah deh, aku kirim formulir pendaftaran ku dulu’ pikirku. Tak berfikir panjang aku telah mengirim formulirku dan aku telah terdaftar di sekolah itu.

Aku tak mendapatkan kabar apapun darinya hingga hari pertama sekolahku di SMK itu tiba, aku tak melihat tanda-tanda dirinya hingga pulang sekolah. Aku merasa sedikit marah padanya, namun yah sudahlah, nanti juga aku bisa bertemu lagi dengannya.
Tiba-Tiba sebuas notifikasi pesan muncul di layar Handphone ku, ini pesan dari Anita
“Maaf ya.. aku gak dibolehin daftar di sekolah itu sama papa aku.. maaf ya., kamu gak marah kan??” pesan yang muncul di layar handphoneku.
Aku tersenyum kecil membaca pesan itu.
“Yaudah Gak Apa-Apa Kok” balasku
“Makasih Ya..” balasnya
“Besok Pulang sekolah kita ketemuan yuk, di tempat favorit kamu aja,, mau gak?” sebuah pesan kembali masuk di handphoneku.
“Bolehh.. Aku Tunggu Ya...” balasku

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku pergi ke tempat favoritku untuk menepati janjiku dengan nya. Sudah 15 menit aku menunggunya dan belum melihat tanda-tanda kedatangannya. Paling masih di jalan pikirku. Aku membuka handphoneku dan aku terhanyutkan oleh dunia maya yang sedang berada di genggaman tanganku. 30 menit berlalu, hari semakin siang, ia belum juga datang, jika dalam 30 menit kemudian dia belum datang aku pulang saja pikirku yang sedikit jahat. Yang benar saja, dia belum juga datang, aku tunggu sebentar lagi aja deh pikirku lagi. Akhirnya ia datang.

“Lama amat sih?? Aku bosen tau nungguin kamu hampir 2 jam!!” kataku agak marah
“Maaf ya... aku tadi masih berada di sekolah, ini juga baru pulang aku langsung kesini” jelasnya
“Emm... Yaudah Deh, Gpp...” Jawabku singkat.
“Kita ngapain disini?” tanyaku
“Aku pengen bicara sesuatu sama kamu, ini serius” jawabnya dengan nada agak pelan
“Yaudah langsung aja” jawabku
“Aku sebenarnya..........” katanya agak menundukkan kepalanya
“Sebenarnya apa??” tanyaku
“Aku suka sama kamu” terangnya
“Kamu Becanda Kan??” ucapku agak heran
“Yang bilang aku becanda siapa sih? Aku serius?” katanya
“Lalu??” jawabku singkat
“Kitakan udah lama nih sahabatan sampai sedekat ini, kamu gak kepingin apa hubungan kita ini menjadi lebih serius lagi?” jelasnya
Aku kehabisan kata-kata, aku hanya bisa menundukkan kepalaku
‘Ya Allah, Kenapa Secepat Ini Rasa Yang Kupunya Harus Berada Di Posisi yang lebih serius? Aku tahu aku dan dia beda kepercayaan, namun apakah aku dan dia bisa bersatu? Andai dia juga tau kalau aku juga mencintainya dalam diam sejak dulu, namun aku hanya menganggapnya hanya sebatas sahabat dan nggak lebih.., Ya Allah, berikanlah aku petunjukmu...’ doa ku dalam hati
“Em, melamun lagi... Kamu kok kebanyakan melamunnya?” suaranya agak rendah
“Eh, nggak kok..” jawabku singkat
“Tapi... Kamukan tahu sendiri, kita beda agama, beda keyakinan, apa kita bisa bersatu? Aku Cuma menganggap kamu sebagai sahabat aku, dan gak lebih Nitt” jelasku
“Aku tau, tapi semuanya.......” suaranya terdiam
“Semuanya  apa?” tanyaku
“Semuanya udah terjadi, aku cinta sama kamu..” jelasnya singkat
Aku terdiam sejenak sambil berfikir berkali-kali, apa yang harus aku lakukan? Perbedaan ini pasti akan menjadi permasalahan cepat atau lambat.
“Kamu kok diam?” katanya
“Aku akan menjawabnya suatu hari nanti, dan aku butuh waktu” jawabku sambil menggenggam tangannya.

Aku tahu ini salah, aku salah, aku yang membuatnya semakin lama semakin nyaman denganku. Aku juga semakin lama semakin nyaman dengannya. Perhatian ku padanya sangat berlebihan untuk sekedar hubungan persahabatan. Aku yang salah, semua ini karena aku, aku yang memulai hubungan persahabatan ini.

Setiap hari kami bertemu ketika sepulang dari sekolah, aku selalu menghabiskan waktuku dengan dia, bahkan kami malah semakin dekat dan semakin nyaman dengan hubungan yang statusnya tidak jelas ini, dia sahabatku, tapi kami saling mencintai, walau berbeda agama, itu tak bisa lagi memisahkan kami. Dari waktu ke waktu, hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan, kami tak pernah putus komunikasi semenjak pertemuan yang sangat membuat kami kebingungan itu.

3 bulan berlalu, aku sudah tidak tahan akan hubungan ini, aku mengajaknya ke suatu tempat, tempat favoritku yang lain, jauh dari kota.
“Kamu ngapain bawa aku ketempat ini?” katanya dengan sedikit kebingungan.
“Ini adalah tempat yang paling aku sukai, ini juga tempat favoritku, tempat kesukaanku, tempat dimana aku bisa menangis sepuas hatiku, tertawa, marah, senang, hingga melepas semua rasa lelahku... Tempat ini sepi, tak ada satupun orang disini, aku bisa berteriak sekencang-kencangnya hingga aku merasa lega ketika aku sedang banyak pikiran. Tempat ini juga sejuk dan indah, kita bisa melihat rumah-rumah kecil dan hamparan sawah yang luas disini.” Jelasku panjang lebar.
“Lalu? Kita ngapain disini?” tanyanya lagi kepadaku
“Selain aku ingin menikmati keindahan tempat ini bersamamu, aku juga ingin bicara serius sama kamu” jelasku sekali lagi
“Bicara serius? Tentang apa?” tanyanya agak keheranan
“Kita sudah sangat dekat dari awal kita bertemu, perbedaan kita sungguh membuat kita merasa kebingungan, namun aku sadar kalau rasa cinta yang Tuhan berikan kepada kita berdua adalah sebuah anugerah yang paling berharga. Karena cinta adalah anugerah dari Tuhan, aku mau kita lebih serius, seperti apa yang kamu katakan padaku beberapa bulan yang lalu. Kamu mau kan?” jelasku sambil menggenggam kedua tangan nya yang mulus.
“Aku... Aku mau menjalani hubungan lebih serius dengan kamu, bahkan ini adalah moment yang paaaling aku tunggu sejak lama” kata yang keluar dari mulutnya sambil menatap mataku.
“Kamu janji ya kita nggak akan pernah terpisah, walaupun mungkin hubungan kita yang serius ini nggak akan bertahan lama, kita akan masih memiliki hubungan persahabatan” ucapan janjiku padanya
“Iyah, aku janji sama kamu” katanya sambil memelukku
“Makasih ya sayang” sambungnya lagi

Sungguh hari yang sangat menyenangkan dan sungguh indah di dalam kehidupan kami berdua. Hari itu takkan pernah terlupakan dalam catatan sejarah kisah ku bersama dirinya. Mulai dari hari itu, kami semakin dekat, bahkan sudah banyak orang yang sudah mengetahui hubungan ku ini, banyak orang yang menentang hubungak kami, bahkan temanku yang dulunya sangat akrab denganku, kini sudah entah kemana rimbanya. Terserah mereka mau bilang apa, yang penting hubungan ku dengan nya tetap utuh.

TINGG!!!
Suara pesan masuk ke handphoneku.
‘Ah, pasti dari Anita’ pikirku.
“Sayang, nanti sore kamu ke taman dekat kota ya?” isi dari pesan yang aku terima.
“Mau ngapain sayang?” isi balasan pesannya dariku.
“Ada deh.. Kepo yaa?” balasnya sedikit meledekku
“Hhheh, kasih tau dong sayang...” balasku penasaran
“Udah, pokoknya nanti sore jam 4 kamu kerumah aku ya..!” balasnya
“Siap sayang..!” balasku singkat

Jarum jam menunjukkan angka 15:29, aku bersiap-siap untuk menemui Anita di taman, entah apa yang ingin dia lakukan bersamaku, mungkin Cuma ngobrol biasa batinku. Sesampai aku disana aku belum melihat akan tanda-tanda kedatangan Anita.
“Emm, udah hampir jam 4 sore... Anita juga belum datang, tadi dia sendiri yang ngajak..” gumamku

“Dorrr” Suara yang selalu membuatku terkejut.
“Haduuh, kamu ini, selalu membuat aku kagett,,. Kalo jantung aku copot gimana?” kataku dengan nada agak marah
“Kalo jantung kamu copot,, pake jantung aku saja,. Hhahah....” ledeknya sambil tertawa
“Wahh, kamu ini.. emm, kamu ngapain ngajak aku kesini??” tanyaku agak heran
“Hmm, gak apa-apa sih,, aku kangen aja” jawabnya
“Lebay kamu, baru sehari gak ketemu udah kangen” jawabku agak meledeknya
“Bukan, aku gak kangen sama kamu,,” jawabnya membuatku penasaran
“Kalo gak kangen sama aku, kangen apa coba?”
“Aku kangen sama tempat ini!”
“Kangen sama tampat ini?? Kenapa?”
“Kamu inget gak, waktu kita masih di SMP dulu, kita sering kesini setiap pulang sekolah, kita bercanda bareng, kamu beliin aku Ice Cream, terus kita kehujanan dan kamu ngajak aku ke tempat teduh.. Kamu inget gak masa-masa itu?” kata Anita mengingatkanku
“Aaah iya.. terus besoknya kamu kapok kan aku ajak lagi  kesini kamu gak mau, karena takut kehujanan, hhahh” jawabku sambil meledeknya
“Hah, iya sayang,, tapi aku rinduu banget sama kenangan itu,,. Makanya aku ngajakin kamu kesini” jelasnya
“Oh iya sayang, kamu inget gak waktu kita ngerayain ulang tahun kamu disini?” tanyaku
“Emm, inget! Aku inget banget sayang... yang kamu ngerjain aku kan? Kamu tiba-tiba ninggalin aku disini pas hari udah mulai gelap, terus kamu ngagetin aku dari belakang sambil ngasih aku boneka beruang.,. makasih ya sayang..!” jawabnya dengan riang
“Hhah, kamu masih inget yaa sayang,, aku juga ingeet banget sama wajah kamu yang kebingungan nyari aku pas aku tinggalin,,. Wajah kamu gemess banget” ledekku
“Iss, kamu ya sayanggg” jawabnya sambil mencubit pipi ku
“Aduduuduh.. Sakitt” Balasku
“Kamu sihh, nakal..” jawabnya

Sore itu menjadi sore yang sangat indah, aku tak menyangka dapat bersama dengannya sampai sejauh ini. Setahun berlalu terasa sangat cepat jika aku melewati setiap hariku bersamanya, sudah setahun kita bersama, namun apakah kita akan berpisah atau kita akan bertahan lebih lama? Aku tak ingin jauh darimu, orang yang dulunya tidak ku kenal bisa menjadi sahabatku, dan kini dia menjadi kekasihku, perbedaan tak menjadi penghambat bagi kita.

KRINGGG!!!
Suara bel sekolah menandakan waktu pulang telah tiba! Aku bergegas membereskan semua perlengkapan ku dan kembali pulang kerumah. Saat aku keluar dari gerbang sekolah, sekilas aku melihat Anita, lalu menghilang, mungkin aku kecapean makanya aku melihat bayangannya pikirku.
Saat aku menuju ke parkiran, handphoneku berdering.. Ini telepon dari mama
“Assalamu’alaikum, ma.. Ada apa ma tumben nelfon aku jam segini” jawabku mengangkat telepon dari mama
“Wa’alaikum salam, nak. Nak cepat pulang kerumah ya nak.. ada yang mau disampaikan sama kamu” suara mama terlihat agak cemas
“Yaudah, bentar ya ma, aku udah di parkiran kok, tunggu sebentar ya ma...” jawabku sambil sedikit menenangkan mama
Aku bergegas pulang menuju rumahku, namun jalanan tempat biasa aku melintas ditutup karena ada perbaikan jalan, aku mencari jalan memutar yang jaraknya sangat jauh, aku mengebut sepeda motorku dan tiba-tiba, aku tak melihat ada lubang di jalan itu dan aku terjatuh dari sepeda motorku. Tangan kananku terluka, namun aku masih kuat, aku kembali menaiki sepeda motorku dan akhirnya aku berhasil pulang kerumah walaupun agak terluka.

“Assalamu’alaikum” sahutku sambil mengetuk pintu rumah
“Wa’alaikum salam, nak kamu udah pulang.. loh itu tangan kamu kenapa?” mama melihatku dengan cemas
“Gak apa-apa kok ma, tadi aku gak liat ada lubang di jalan dan aku jatuh,, tapi gak apa-apa kok, beneran” aku mencoba agar mama tidak khawatir denganku,
“Yaudah, masuk, Anita sudah menunggu mu” jawab mama
Haa.. Anita? Ngapain dia datang kerumah? Batinku
Ketika aku memasuki ruang tamu dan melihat Anita,. Anita perlahan mendekatiku dengan wajah sedihnya dan memelukku dengan erat sambil menangis. Disana juga terlihat ada beberapa teman-teman SMP Ku dulu yang sudah tahu akan hubunganku dengan Anita.
“Anita, kamu kenapa? Nitt,, jawab aku Nitt, kamu kenapa??” aku semakin cemas.
Anita hanya bisa menangis dan tidak mengeluarkan sepatah katapu dari mulutnya. Aku menanyakan hal ini kepada semua orang yang ada disana tentang apa yang sebenarnya terjadi. Anita masih belum melepaskan pelukanku. Mereka semua terdiam, lalu mama bencoba menjelaskan semuanya..

“Nakk, mama tau ini berat buat kamu sama Anita, tapi kamu harus menjauh satu sama lain mulai sekarang” jelas mama singkat
“Kenapa ma?? Kenapa?” aku semakin dibuatnya kebingungan
“Kamu itu berbeda kepercayaan dengannya, kalian gak akan bahagia jika bersama, dan kalian gak mungkin bisa bersatu. Apa kalian mau mengorbankan agama kalian demi sesama makhluk ciptaan tuhan? Umat macam apa yang berani mengorbankan agamanya sendiri demi cinta.” Suara mama dengan nada yang semakin meninggi
“Nggak ma, aku gak mau menjauh dengannya, apalagi terpisah dengan cara terpaksa seperti ini” sahutku
“Sayang,. Mama kamu benar, kita berbeda, kita gak bisa selamanya begini terus” Anita berkata kepadaku sambil melepaskan pelukannya
“Sayang,. Aku gak mau pisah dengan kamu, apalagi dengan cara seperti ini...” aku berusaha menenangkan Anita
“Maa,. Tolong kasih aku waktu dengannya, kami gak bisa berpisah dengan tiba-tiba seperti ini,,. Ini semua butuh proses maa..” aku berusaha membujuk mama
“Yang dikatakan anak tante memang ada benarnya, semuanya butuh proses, beri mereka sedikit waktu tante” jelas temanku kepada mama
“Yaudah, mama kasih kalian waktu 2 bulan dari sekarang, namun jika kalian masih menjalin hubungan seperti ini, terpaksa, mama akan memisahkan kalian secara paksa” kata mama sambil meneteskan air matanya
“Makasih ya tante,, makasihh..” Anita memeluk mama sambil menangis
“Makasih ya ma..” Aku mendekati mama lalu memeluknya

Keadaan ini sungguh berat untuk kami, kami akan terpisah sebentar lagi, namun aku sudah berjanji kepada Anita, jika hubungan cinta ini berakhir, kami masih menjadi sahabat seperti dulu. Tetapi, aku gak mau semuanya terjadi.

Sudah lebih sebulan berlalu, terahkir aku bersamanya adalah hari Sabtu, ini sudah hari rabu, sudah 3 hari tidak ada kabar dari Anita, aku merasa cemas, sangat cemas. Tidak biasanya ia seperti ini. Aku sudah mencoba menelfonnya beberapa kali, namun semua nya tidak diangkat, aku mengirimnya pesan singkat, tidak ada balasan sama sekali. Keesokan harinya sepulang sekolah, aku melihat Anita berada di dekat parkiran sekolah, ia menungguku.

“Anita? Kamu apa kabar? Kok 3 hari kemarin kamu dak bisa dihubungi? Kamu gak kenapa-kenapa kan?? Nitt, jawab aku..” tanyaku dengan penuh kecemasan
“Gak, aku gak kenapa-kenapa kok, kamu jangan khawatir..” jelasnya singkat
“Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu” jawabku
“Kita ke tempat favorit kamu yuk, yang dekat sekolah kita dulu” ajaknya denganku
“Yaudah, ayuk” jawabku

Aku mengambil motorku lalu kami pergi kesana.
“Kamu inget gak waktu itu” tanyanya pelan denganku
“Waktu kapan, banyak kenangan kita disini” jawabku
“Waktu aku mengungkapkan tentang rasa ini” jelasnya
“Iya, aku ingat kok, aku selalu mengingatnya aku selalu mengingat setiap detik itu” kataku
“Maka dari itu.. Aku mau kenangan cinta kita cukup sampai disini saja” pintanya sambil menggenggam tanganku
“Maksud kamu??” tanyaku
“Aku mau hubungan cinta kita hanya sampai sini. Berakhir disini!” katanya sambil meneteskan air matanya
“Sayang.. Aku gak mau ini terjadi, tolong jangan tinggalin aku” kataku sambil memeluknya
“Aku tau,. Tapi mama kamu benar, kita gak bisa begini selamanya, selalu ada yang tersakiti kedepannya jika kita terus-terusan seperti ini..” jelasnya sambil melepaskan pelukannya
“Sayang.. Ini baru sebulan lebih, belum dua bulan... Apa harus sekarang” kataku
“Sayangg... Aku Tau, tapi lebih cepat lebih baik, daripada kita menunggunya lebih lama lagi, rasa ini bisa menjadi semakin kuat.. akku takut jika kita terpisah jika rasa itu semakin kuat.. Jadi, mumpung rasa ini melemah, aku mau hubungan cinta ini hanya sampai sini.” Jelasnya
Dengan berat hati, Aku meng-iya kan permintaanya sambil meneteskan air mataku.
“Terima Kasih ya,,. Atas semua kenangan nya dan juga waktunya,. Aku sangat mencintaimu, Sayang” ucapnya sambil memelukku yang membuatku semakin terharu
“Udah, kami gak usah nangiss, kita masih sahabat,, kamu tenang aja” sambungnya sambil menghapus air mataku
“Makasih Ya Nitt... Udah mau ngeluangin waktunya untuk aku.. Aku mencintaimu” Sambil memeluknya sekali lagi

Hari itu menjadi hari paling menyedihkan. Aku tak menyangka kisah kami hanya sampai disini.
5 bulan berlalu sejak hari itu. Kami menjadi semakin jarang bertemu, apalagi berkomunikasi. Namun kami masih sahabat selamanya, karena sahabat sejati selalu tidak ada habisnya, tidak ada kata pisah untuk sahabat sejati. Setelah kami lulus dari sekolah menengah, aku memutuskan untuk masuk universitas bersamanya di universitas yang sama. Dan kami menjadi team yang baik, selalu kompak dan bekerja sama dalam urusan apapun. Banyak orang salah sangka dengan hubungan kami yang sebatas bersahabat, banyak yang beranggapan kami itu berpacaran, namun semua itu hanya masa lalu kami, dulu kami memang benar berpacaran, tapi sekarang kami menjadi sahabat sejati yang tak akan pernah terpisahkan, sekarang dan selamanya.

Recent posts

Comments

No comments yet.

Leave a Reply

captcha