Masihkah Perjalanan Lintas Waktu Dianggap Sebagai Kesesatan Sainfitik?

MASIHKAH PERJALANAN LINTAS WAKTU DIANGGAP SEBAGAI KESESATAN SAINTIFIK?
Image Source: https://awsimages.detik.net.id

Mari kita mulai imajinasi ini dengan kutipan dari salah seorang fisikawan paling cemerlang di zaman ini:

Perjalanan lintas waktu pernah dianggap sebagai kesesatan saintifik. Saya pernah menahan diri dari membicarakannya supaya tidak dicap gila. Tapi, sekarang, saya bisa lebih santai... Andai punya mesin waktu, saya akan mengunjungi Marilyn Monroe ketika ia sedang pulen-pulennya atau menonton Galileo saat ia meneropong surga. Saya barangkali akan berkunjung ke hakhir alam semesta untuk mengetahui bagaimana keseluruhan cerita kosmik kita berakhir.
- Stephen Hawking

Pada kesempatan lain, secara tersirat Hawking menyatakan bahwa dia percaya bahwa perjalanan lintas waktu itu mungkin dilakukan, namun hanya ke masa depan. Sebagaimana para penulis dan pembuat film sains fiksi, Hawking dan fisikawan lain juga berpikir tentang lorong-lorong yang dapat menembus dimensi keempat (waktu). Hanya, sudut pandangnya berbeda. Pertanyaan pertama bagi mereka: apakah hukum-hukum alam memungkinkan hal itu?

Jika seseorang dapat pergi ke masa lalu, ia dapat pula membunuh ibunya atau mengebiri ayahnya sebelum ia lahir. Kalau ia melakukannya, tentu ia jadi tidak pernah ada, dan andai ia tidak pernah ada, bagaimana mungkin ia datang dari masa depan buat menyengsarakan orangtuanya? “Akibat” mustahil mendahului “sebab”. Maka, kecuali dunia berhenti mengikuti hukum kausal, perjalanan lintas waktu ke masa lalu selamanya bakal bertahan sebagai khayalan. Paradoks ini dikenal dengan nama “Grandfather Paradox (Paradoks Kakek)”.

Apabila terdapat sebuah cangkir utuh, apakah kita pernah berpikir bahwa cangkir ini pernah pecah? Tapi kalau cangkir pecah, pasti kita pernah berpikir bahwa gelas ini pernah utuh. Jadi waktu itu bergerak maju, kemungkinan ada (bergerak mundur) tapi hanya bentuk imajinatif.
- Husin Alatas
Ahli fisika Institut Pertanian Bogor (IPB)

Bagi kalian yang sudah menonton film Avenger: End Game, tentu juga turut melihat bagaimana perjuangan tim avenger melintasi waktu ke masa lalu untuk mencuri 5 buah infinity stone. Di dalam film dikisahkan bahwa teori yang digunakan oleh avenger untuk melakukan perjalan waktu disebut Closed Timelike Curves (CTC) yang menghubungkan dua waktu berbeda sehingga memungkinkan perjalanan waktu ke masa lalu.

Caranya adalah dengan mengecilkan tubuh mereka hingga ke skala sub-atomik menggunakan "Pym's Particles" dan masuk ke dalam "Quantum Realm" untuk pergi ke masa lalu yang sudah ditentukan sebelumnya. Seperti kita ketahui, film ini memang agak berbeda dengan berbagai film yang juga mengangkat konsep perjalan lintas waktu lainnya. Terdapat sebuah scene dimana salah satu tokoh yang bernama War Machine memberikan saran agar tim Avengers ini kembali ke masa Thanos masih bayi untuk membunuhnya agar Thanos di masa depan tidak pernah lahir dan ada, persis seperti konsep Grandfather Paradox.

Namun, teori ini dibantah keras oleh Tony Stark dan Bruce Banner. Menurut keduanya, time travel memang tidak berjalan semudah itu. Pasalnya, saat seseorang melakukan time travel, ada hukum fisika yang berlaku. Maka, Joe Anthony Russo (Sutradara film Avengers: Endgame) mencoba menggunakan pemahaman lain terkait Grandfather Paradox dan perjalanan waktu, yaitu Many Worlds Theory (MWT) yang digunakan oleh David Deutsch. Teori ini berpendapat bahwa saat seseorang melakukan time travel, akan timbul realitas baru yang sama sekali tidak mengubah realitas yang sudah ada di masa kini. Pemahaman ini yang lalu digunakan oleh tim Avengers untuk memperbaiki segala hal yang sudah dihancurkan oleh Thanos. Tim Avengers akhirnya akan melakukan perjalanan waktu melalui quantum realm, mengambil infinity stones, memperbaiki keadaan, dan mengembalikan kembali infinity stones tersebut ke tempat asalnya tanpa merubah banyak realitas yang sudah terjadi.

Well, That was a great film!

Namun, menurut ahli fisika ITB Husin Alatas, perjalanan waktu ke masa lalu bukanlah sebuah kenyataan. Jadi, jangan terlalu menganggap serius CTC dalam skala relatif besar. Alasanya, karena karena hukum kedua termodinamika hanya mengizinkan waktu untuk bergerak satu arah, yakni ke masa depan. Termodinamika merupakan teori fisika yang fundamental, yang memiliki tipe-tipe hukum, termodinamika satu, dua, dan tiga. Teori ini menyebutkan bahwa alam semesta ini selalu menuju ketidakteraturan yang tingkat ketidakteraturannya terus meningkat.

Jadi, bila seseorang mencoba pergi ke masa lalu, artinya ketidakteraturan itu berkurang, dan ini dilarang oleh hukum kedua termodinamika. Husin juga mengatakan bahwa dari segi ilmiah, pengecilan bentuk tubuh tidak mungkin terjadi. Untuk mengecilkan tubuhnya, ‘Avengers’ harus mereduksi ruang antara inti atom dengan elektron di sekitarnya, atau dengan mereduksi ukuran semua ukuran partikel fundamental.

Lalu, apakah perjalan lintas waktu itu memang se-tidak-saintifik-itu ??

Mari kita kembali ke pembahasan saintifik kita, setidaknya para ilmuwan hingga hari ini menemukan ada 3 hal yang memungkinkan manusia untuk melakukan perjalanan lintas waktu.

 

1. Lubang Cacing

Hawking mengatakan bahwa sehalus dan selicin apa pun sebuah benda, di dalamnya pasti ada lubang dan kerutan. Prinsip itu juga berlaku atas waktu.

Di busa kuantum atau quantum foam, yang lebih kecil ketimbang atom, terdapat lubang cacing, lorong atau jalan pintas yang menembus ruang dan waktu. Lorong-lorong itu terbentuk dan menghilang dan terbentuk kembali secara terus-menerus. “Lubang-lubang cacing itu benar-benar menghubungkan dua tempat dan dua masa yang berbeda,” tulisnya. Sejumlah ilmuwan menanggapi gagasan itu itu dengan upaya menciptakan mesin waktu. Pada dasarnya, mesin jenis ini bertugas menangkap dan memperbesar lubang cacing sampai manusia dapat memasukinya.

Sejauh ini upaya itu belum berhasil. Tapi kelak, sekalipun teknologi untuk memperbesar lubang cacing ditemukan, rintangan-rintangan lain sudah menant, lubang cacing bisa jadi malah langsung membunuh seseorang yang mencoba memasukinnya dengan radiasi tingkat tinggi atau materi-materi tak dikenal yang mematikan.

 

2. Lubang Hitam

Pilihan lainnya ialah lubang hitam.

Menurut teori relativitas umum Einstein, kecepatan waktu tidak selalu sama. Di angkasa luar yang kosong, misalnya, waktu melaju lebih cepat ketimbang di Bumi. Sebabnya ialah massa Bumi. Materi menghambat waktu sebagaimana sampah menghambat aliran sungai. Semakin berat dan besar gravitasi sebuah materi, semakin besar pula hambatan yang ia ciptakan terhadap waktu. 26 ribu tahun cahaya dari Bumi, tepat di pusat Bimasakti, ada sebuah lubang hitam supermasif. Ia merupakan benda terberat di seantero galaksi, dengan massa empat juta bintang mati yang tertelan daya gravitasinya. “Lubang hitam seperti ini berdampak luar biasa terhadap waktu. Ia memperlambat waktu lebih dari benda apa pun,” ujar Hawking. “Karena itulah ia merupakan mesin waktu alami.”

Katakanlah sebuah pesawat angkasa luar mengitari lubang hitam tersebut. Di Bumi, pusat kontrol misi itu mencatat: satu putaran terlaksana dalam tempo 16 menit. Tapi, bagi kru pesawat itu, yang berada sedemikian dekat dengan lubang hitam, waktu melambat secara ekstrem. Untuk setiap 16 menit di Bumi, mereka hanya mengalami delapan menit. Dan andai misi itu berlangsung selama sepuluh tahun waktu Bumi, para kru pesawat itu cuma bertambah tua lima tahun.

 

3. Melaju Dalam Kecepatan Cahaya

Menurut teori relativitas khusus Einstein, semakin cepat gerak sebuah benda, semakin lambat waktu mengerkahnya.

U.S Naval Observatory menguji teori ini pada 1971. Para peneliti menyiapkan dua buah jam, yang pertama diletakkan di observatorium, sedangkan yang lainnya dibawa mengelilingi dunia dalam sebuah jet berkecepatan suara atau 1.236 kilometer per jam. Hasilnya, ketika dibandingkan di akhir penerbangan, jam kedua terbukti tertinggal sepersekian detik. Dengan kata lain, meski sekejap, pesawat yang ditumpangi jam itu berhasil menembus dimensi keempat.

Tapi, menurut Hawking, kecepatan yang diperlukan untuk perjalanan lintas waktu sungguhan ialah kecepatan cahaya lebih dari satu miliar kilometer per jam. Dalam kecepatan itu, jarak yang tertempuh setiap detiknya setara tujuh kali mengelilingi Bumi. Sementara laju Apollo 10, kendaraan berawak paling ngebut yang pernah diciptakan manusia, hanya 39.897 kilometer per jam atau 27 ribu kali lebih lamban.

 

Jadi, ya kudu sabar dan tetap semangat ya para ilmuwan...

Perjalanan lintas waktu barangkali baru akan terwujud jauh di masa mendatang. Namun, mengingat upaya keras para ilmuwan dan kenyataan bahwa topik itu tidak lagi dipandang remeh dalam dunia sains sebagaimana, katakanlah, 50 tahun silam, kita patut bergembira dan pasang sikap optimistik.

Meski perlahan, umat manusia sedang mendekati zaman baru. Zaman ketika waktu dapat dilompati seperti selokan kecil dan disalip seperti sepeda listrik. Zaman ketika orang-orang yang gemar berseru “jangan pilih pemimpin kafir antek asing dan aseng” dan sejenisnya, kalaupun masih ada, dapat dikirimkan bersama buah-buahan busuk ke 3,5 menit sebelum Kiamat. Dan seperti Anda ketahui, “Paradoks Kakek” takkan mengizinkan mereka kembali.

Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution.
- Albert Einstein

Referensi: Tirto.id, CNN, BeritaSatu

Recent posts

Comments

No comments yet.

Leave a Reply

captcha